Soal Sudah Tahu Itu – Informasi Spiritual
Soal Sudah Tahu Itu – Informasi Spiritual – Waktu anak saya, Jonathan, masih kecil, saya sering bantu dia ngerjain tugas, entah itu PR, pekerjaan rumah, atau sekadar kasih saran. Tapi sering banget dia malah nyahut, “Aku udah tahu itu, Ayah.” Bahkan kalau dia sendiri yang minta bantuan, dia dengar sih, tapi kayak nggak benar-benar “mendengar” apa yang saya bilang.
Bukan berarti saya ini orang paling bijak atau selalu kasih saran terbaik, tapi kalau dia mau dengerin, banyak hal yang bisa bikin dia hemat waktu, nggak stres, atau terhindar dari masalah. Begitu Jonathan makin gede, dia mulai belajar buat dengerin lebih baik. Nggak langsung nolak apa yang dia dengar, tapi lebih ke menimbang dulu, melihat manfaatnya, baru deh mutusin mana yang sesuai sama prinsip dia soal baik dan buruk.
Semesta ini sebenarnya sering banget kasih kita pesan. Tapi nggak selalu dengan cara yang kita harapkan. Kadang pesan itu datang dari teman, atau malah dari orang yang nggak kita suka. Bisa juga lewat mimpi, buku, radio, TV, internet, bahkan sekadar telepon.
Kalau kita langsung nutup pikiran dan ngerasa “ah, gue udah tahu itu,” bisa jadi kita kelewatan satu hal kecil yang sebenarnya bisa menyelamatkan kita dari masalah besar. Dengan tetap berpikiran terbuka, kita bisa memilah pesan yang datang dan menentukan pilihan berdasarkan hati kita sendiri.
Ada cerita tentang sekelompok ilmuwan yang masuk ke kebun apel buat meneliti buah apel. Mereka sibuk nyatet ukuran, berat, warna, dan detail lainnya. Tapi di sudut kebun, ada satu ilmuwan lain yang cuma duduk santai di bawah pohon, makan apel.
Yang lain tahu tentang apel. Tapi yang makan apel itu beneran tahu apa itu apel.
Sama kayak gini, tahu tentang sesuatu bukan berarti beneran tahu hal itu. Tahu tentang Tuhan bukan berarti kenal Tuhan. Tahu tentang hukum alam semesta nggak akan ada gunanya kalau kita nggak beneran paham dalam hati dan jiwa kita.
Banyak orang yang udah baca buku-buku saya. Kadang saya dapat email yang isinya simpel, “Saya udah tahu semua ini. Saya udah praktik bertahun-tahun, jadi nggak ada hal baru yang saya pelajari.”
Menurut saya, sebenarnya nggak ada yang benar-benar baru. Kayak yang dibilang di Kitab Pengkhotbah, “Tak ada yang baru di bawah matahari.” Yang bikin beda itu cara kita memandang sesuatu, bagaimana kita menginterpretasi informasi yang kita terima. Kita bisa pilih buat mencari hikmah dalam apa yang kita baca, dengar, atau alami.
Kalau ada yang bilang sesuatu nggak akan berhasil, sebenarnya dia cuma ngomong dari pengalamannya sendiri. Bisa jadi buat dia nggak berhasil, tapi buat kita bisa beda. Dengerin hati, kumpulin informasi, dan biarkan Semesta menunjukkan jalannya.
Sekarang, Jonathan udah jauh lebih sering dengerin. Dia berpikir dulu sebelum menilai sesuatu. Dia mau mendengar pendapat yang berbeda tanpa langsung defensif kayak dulu. Karena itu, dia jadi lebih toleran, lebih pengertian, dan dalam banyak hal, lebih sukses. Dia tumbuh jadi anak muda yang luar biasa, dan saya yakin dia akan melakukan hal-hal hebat dalam hidupnya.
Jangan sampai kita jadi orang yang kayak di lirik lagu ini:
“Kalau soal perdebatan, aku lihai sekali. Aku selalu bisa lihat dua sisi—yang salah dan pendapatku sendiri.”
Lebih baik kita belajar mendengar, merenungkan, dan menunjukkan sifat toleransi, damai, pengertian, serta kasih sayang. Dan seperti kata Komandan Spock, “Live long and prosper.” (Hidup panjang dan sejahtera.)