Sepotong Keabadian – Makna Spiritual
Sepotong Keabadian – Makna Spiritual – Ini terjadi bertahun-tahun yang lalu. Saat itu, seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berdiri di samping ayahnya di pagi yang dingin. Mereka berdiri di tepi Samudra Atlantik, menghadap ke timur, menunggu matahari terbit. Udara pagi yang sejuk membuat si anak sedikit menggigil. Seolah tahu tanpa harus melihat, sang ayah melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu kecil putranya.
Mereka berjalan hingga ke tepian air, lalu sang ayah berkata, “Kau lihat hamparan lautan yang luas itu? Lautan itu terdiri dari miliaran galon air, dan setiap galon terdiri dari puluhan ribu tetesan.”
Si anak tampak penasaran. “Lalu, tetesan itu terbuat dari apa?” tanyanya.
Sang ayah tersenyum. “Tetesan itu terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil, dan setiap bagian itu tersusun dari unsur-unsur yang membentuk dunia tempat kita tinggal.”
Si anak terdiam sejenak, lalu bertanya, “Kalau begitu, aku terbuat dari apa, Ayah? Apakah aku terbuat dari hal yang sama seperti lautan?”
Sang ayah tersenyum lagi. “Segala sesuatu saling berkaitan dan menjadi bagian dari yang lain. Saat kau berdiri di sini pagi ini, kau adalah bagian dari tanah ini, pantai ini, dan laut ini. Lihatlah pohon itu, langit itu. Mereka adalah bagian dari aku dan juga bagian dari ‘Aku’ yang kekal. Ada kekuatan yang menyatukan kita semua. Ada yang menyebutnya Tuhan, ada yang menyebutnya Allah, Jehovah, atau Jove. Nama-nama itu tak begitu penting. Yang penting adalah keberadaannya. Saat kau tumbuh dewasa, kau akan merasakan kehadiran kekuatan ini dalam dirimu. Kau akan tahu bahwa kekuatan itu selalu ada, dan kau akan merasa aman serta bahagia dalam naungannya.”
Si anak menatap ayahnya dengan ekspresi bingung. “Bagaimana mungkin kekuatan ini, Tuhan ini, bisa ada dalam diriku tetapi juga ada di segala sesuatu yang kulihat?”
Sang ayah tersenyum dan menjawab, “Karena Tuhan ada di mana-mana dan dalam segala hal. Tuhan ada dalam dirimu, dalam diriku, dalam burung camar yang kau lihat di sana, dalam pasir di bawah kaki kita, dan dalam bunga-bunga liar di padang. Tuhan adalah segalanya dan tak mungkin ada dua ‘segala’. Tuhan adalah bagian dari dirimu, sama seperti setetes air yang menjadi bagian dari lautan ini. Ingatlah ini baik-baik, dan kau akan tumbuh dengan hati yang damai, penuh sukacita, dan pemahaman yang luas.”
Bertahun-tahun telah berlalu sejak aku berdiri di tepi pantai bersama ayahku. Sejak saat itu, aku telah berkelana ke berbagai negara, mengenal banyak budaya, merasakan kesedihan yang mendalam dan kebahagiaan yang luar biasa. Aku telah menyaksikan kebaikan dan keburukan manusia. Namun, di sepanjang perjalanan hidupku, aku selalu mendengar suara ayahku yang berkata, “Tuhan ada di mana-mana dan dalam segala hal, dan tidak mungkin ada dua ‘segala’.”
Sejak kecil, aku tumbuh di sebuah desa kecil tempat umat Hindu, Kristen, Muslim, dan lainnya hidup berdampingan. Sejak usia dini, aku belajar bahwa semua manusia adalah sesama penumpang di kapal kehidupan ini. Kita tidak bisa menenggelamkan penumpang lain tanpa ikut tenggelam bersama mereka. Saat aku mempelajari kitab-kitab Veda dan membandingkannya dengan ajaran para nabi Ibrani serta ajaran para rasul dalam Perjanjian Baru, aku menemukan satu benang merah yang menyatukan semuanya: cinta kasih. Perintah terbesar yang pernah diberikan adalah, “Cintailah Tuhanmu dan cintailah sesamamu.” Semua ajaran lainnya hanyalah bentuk lain dari pesan yang sama.